Apakah MDG’s Dibuat Untuk Masa Depan yang Lebih Baik?
Oleh Igor Yotapditya
KabarIndonesia - Saat ini Indonesia sedang gencar-gencarnya mengangkat jargon-jargon Millennium Development Goals atau MDG’s. Ada delapan poin misi dalam MDG’s yang merupakan impian semua negara berkembang dan negara miskin. Saya tidak ingin membahas mengenai poin demi poin, karena pembahasan tersebut sudah sering dibahas berbagi pihak di media massa. Saya ingin menjelaskan sebuah konspirasi negara-negara maju terhadap negara-negara miskin dan berkembang dengan adanya MDG’s ini.
Awalnya, perlu kita lihat bagaimana kondisi negara-negara miskin dan berkembang saat ini. Hampir seluruh negara miskin dan berkembang merupakan negara konsumen, artinya negara miskin dan berkembang merupakan pembeli bagi barang ataupun jasa dari negara maju. Dalam kasus Indonesia, dapat kita lihat dari neraca ekspor impor yang menjelaskan bahwa ekspor Indonesia mayoritas ialah barang-barang mentah seperti minyak mentah, minyak sawit, kayu, hasil bumi, bahkan pasir. Melihat sisi impor, Indonesia selalu mengimpor barang-barang hasil industri misalnya kendaraan bermotor, bahan bakar minyak, furniture, hingga pesawat tempur. Dari neraca tersebut kita dapat melihat adanya ketidak mampuan pengolahan atau industri yang memberikan nilai tambah atas hasil alam.
Negara konsumen seperti Indonesia merupakan lahan bagi negara maju untuk memasarkan barang dan jasanya. Negara maju memperoleh bahan baku yang murah dari Indonesia yang kemudian diolah dan dijual kembali ke Indonesia dengan harga yang berlipat ganda. Ditambah lagi dengan rendahnya upah di Indonesia, yang berdampak pada pembukaan industri dari negara maju di Indonesia. Hal ini memberikan kesempatan negara maju untuk meraup keuntungan yang jauh lebih besar, karena upah di negara maju sudah sangat tinggi.
Bagaimana hal ini terkait dengan MDG’s? Analogikan dengan sapi potong. Dengan tercapainya MDG’s maka kondisi negara-negara miskin dan berkembang akan lebih baik. Dengan memiliki pendapatan yang lebih tinggi dan kemiskinan yang berkurang maka kondisi negara miskin dan berkembang menjadi lebih baik. Analoginya : seekor sapi kurus di masukan kedalam program penggemukan agar lebih banyak menghasilkan daging.
Dengan tercapainya MDG’s maka negara maju dapat menjual barang dan jasanya kepada negara yang tidak lagi miskin dan sudah berkembang dengan harga yang lebih tinggi. Analoginya : seekor sapi yang telah gemuk kemudian dipotong. (Ingat, pada dasarnya semua sapi memiliki potensi untuk gemuk. Hal ini berkaitan dengan kekayaan sumber daya yang dimiliki Indonesia yang memiliki potensi untuk memajukan Indonesia sendiri)
Indonesia dalam mengikuti MDG’s sama halnya dengan seekor sapi potong. Memiliki potensi besar untuk berkembang namun tidak dikembangkan. Malahan Indonesia memberikan negara maju untuk mengembangkan Indonesia yang dianalogikan dengan program pengemukan sapi potong. Agenda konspirasi negara maju melalui MDG’s ini ialah untuk memajukan negara-negara miskin dan berkembang agar menjadi pangsa pasar yang lebih luas dan lebih kuat daya belinya. Sehingga negara maju dapat menjual semakin banyak barang dan jasa dengan harga yang lebih tinggi pula. Agenda MDG’s:
KabarIndonesia - Saat ini Indonesia sedang gencar-gencarnya mengangkat jargon-jargon Millennium Development Goals atau MDG’s. Ada delapan poin misi dalam MDG’s yang merupakan impian semua negara berkembang dan negara miskin. Saya tidak ingin membahas mengenai poin demi poin, karena pembahasan tersebut sudah sering dibahas berbagi pihak di media massa. Saya ingin menjelaskan sebuah konspirasi negara-negara maju terhadap negara-negara miskin dan berkembang dengan adanya MDG’s ini.
Awalnya, perlu kita lihat bagaimana kondisi negara-negara miskin dan berkembang saat ini. Hampir seluruh negara miskin dan berkembang merupakan negara konsumen, artinya negara miskin dan berkembang merupakan pembeli bagi barang ataupun jasa dari negara maju. Dalam kasus Indonesia, dapat kita lihat dari neraca ekspor impor yang menjelaskan bahwa ekspor Indonesia mayoritas ialah barang-barang mentah seperti minyak mentah, minyak sawit, kayu, hasil bumi, bahkan pasir. Melihat sisi impor, Indonesia selalu mengimpor barang-barang hasil industri misalnya kendaraan bermotor, bahan bakar minyak, furniture, hingga pesawat tempur. Dari neraca tersebut kita dapat melihat adanya ketidak mampuan pengolahan atau industri yang memberikan nilai tambah atas hasil alam.
Negara konsumen seperti Indonesia merupakan lahan bagi negara maju untuk memasarkan barang dan jasanya. Negara maju memperoleh bahan baku yang murah dari Indonesia yang kemudian diolah dan dijual kembali ke Indonesia dengan harga yang berlipat ganda. Ditambah lagi dengan rendahnya upah di Indonesia, yang berdampak pada pembukaan industri dari negara maju di Indonesia. Hal ini memberikan kesempatan negara maju untuk meraup keuntungan yang jauh lebih besar, karena upah di negara maju sudah sangat tinggi.
Bagaimana hal ini terkait dengan MDG’s? Analogikan dengan sapi potong. Dengan tercapainya MDG’s maka kondisi negara-negara miskin dan berkembang akan lebih baik. Dengan memiliki pendapatan yang lebih tinggi dan kemiskinan yang berkurang maka kondisi negara miskin dan berkembang menjadi lebih baik. Analoginya : seekor sapi kurus di masukan kedalam program penggemukan agar lebih banyak menghasilkan daging.
Dengan tercapainya MDG’s maka negara maju dapat menjual barang dan jasanya kepada negara yang tidak lagi miskin dan sudah berkembang dengan harga yang lebih tinggi. Analoginya : seekor sapi yang telah gemuk kemudian dipotong. (Ingat, pada dasarnya semua sapi memiliki potensi untuk gemuk. Hal ini berkaitan dengan kekayaan sumber daya yang dimiliki Indonesia yang memiliki potensi untuk memajukan Indonesia sendiri)
Indonesia dalam mengikuti MDG’s sama halnya dengan seekor sapi potong. Memiliki potensi besar untuk berkembang namun tidak dikembangkan. Malahan Indonesia memberikan negara maju untuk mengembangkan Indonesia yang dianalogikan dengan program pengemukan sapi potong. Agenda konspirasi negara maju melalui MDG’s ini ialah untuk memajukan negara-negara miskin dan berkembang agar menjadi pangsa pasar yang lebih luas dan lebih kuat daya belinya. Sehingga negara maju dapat menjual semakin banyak barang dan jasa dengan harga yang lebih tinggi pula. Agenda MDG’s:
- Pengentasan Kemiskinan : Memiliki tujuan untuk menambah banyaknya jumlah konsumen untuk seluruh produk secara keseluruhan atau bahasa kerennya perluasan pasar. Dengan pemberantasan kemiskinan, negara maju dapat menjual lebih banyak produk dan mendapatkan keuntungan yang semakin besar.
- Peningkatan Pendidikan : Memiliki tujuan untuk meningkatkan pangsa pasar untuk produk-produk yang memiliki teknologi tinggi. Hal ini sudah dimulai sejak saat ini dengan adanya monopoli Microsoft di Indonesia dan Indonesia merupakan konsumen tertinggi untuk telepon seluler. Disamping itu, hal ini juga bertujuan untuk peningkatan kualitas buruh di Indonesia yang terkenal dengan upah rendahnya, yang kembali menguntungkan negara maju dengan cara membuka industri di Indonesia yang mendapatkan high quality labor with lower cost.
- Peningkatan Kesehatan : Memiliki tujuan untuk menambah angka harapan hidup, artinya umur semakin panjang, yang berarti semakin lama penduduk mengkonsumsi produk. Disamping itu, hal ini juga bertujuan untuk meningkatkan penjualan produk-produk kesehatan yang dibuat oleh negara maju.
- Peningkatan Kesehatan Ibu : Memiliki tujuan untuk memperkuat pangsa pasar kaum wanita. Mengingat kaum ibu ialah kaum yang lebih konsumtif dan lebih banyak kebutuhannya dibandingkan pria.
- Persamaan Gender : Memiliki tujuan untuk mengaburkan batasan produk yang digunakan berdasarkan gender. Misalnya sepeda motor yang kini sudah dikembangkan untuk wanita dan dianggap wajar untuk digunakan oleh wanita. Hal ini berfungsi untuk semakin memperluas pangsa pasar karena kelak pasar tidak lagi terbatas pada gender tertentu.
- Kerjasama Global : Memiliki tujuan untuk menghilangkan hambatan-hambatan perdagangan internasional yang cenderung menaikan harga barang impor seperti tarif dan cukai atau kuota. Sehingga negara maju bisa semakin banyak memasukan barangnya ke Indonesia dan menjualnya dengan harga yang relatif lebih rendah.


0 respon pembaca:
Post a Comment